PESONA TENUNAN KAIN KEWATEK DI NARAWAYONG LANGOBELEN DESA ADOBALA
- Feb 08, 2025
- Fransiskus Kopong Doken
- Berita Desa
Di sudut timur Kecamatan Kelubagolit, tepatnya di Kampung Narawayong Langobelen Desa Adobala, seni menenun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari terutama kaum perempuan atau ina-ina sebutan bahasa lamahoot.
Masyarakat setempat telah melestarikan tenun ikat sebagai warisan budaya yang turun temurun, menciptakan kain dengan corak dan motif yang khas serta penuh makna.
Tenun ikat Lamaholot tidak hanya sekedar kain, melainkan tradisi yang hidup dalam identitas dan kearifan lokal bagi masyarakat Lamaholot pada umumnya, termasuk di kampung Narawayong Langobelen Adobala, Kecamatan Kelubagolit, Kabupaten Flores Timur NTT.
Sejak dahulu kala, masyarakat yang mendiami Kampung Narawayong Langobelen Desa Adobala, telah melakukan aktivitas sebagi pengrajin dengan cara tradisional.
Proses pembuatan tenun ikat yang dilakukan kaum perempuan atau ina-ina Adobala ini, melalui beberapa tahapan, mulai dari pemintalan benang, pewarnaan dengan bahan alami, hingga penenunan manual. Bahan mentah pembuatan kain tenun adalah kapas, yang sejak dahulu masyarakat membudayakan. Kain yang mereka hasilkan disebut dengan Kewodu, Kewatek Sunsera (benang sutera).
Setiap helai benang dengan bahan mentah kapas tersebut, membawa cerita dan filosofi yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai budaya masyarakat di Adobala.
Berbeda dengan pola hidup instan masyarakat modern, bahan baku pembuatannya berasal dari benang tekstil modern yang banyak dipasaran.
Kain tenun bermotif modern menambah fungsinya sebagai sumber penghasilan ekonomi keluarga, seperti kewatek,nowing, senai.
Kekhasan motif kain tenun di era sekarang, selain sebagai simbol pelestarian budaya, kain tenun menjadi fungsi ekonomi karena peningkatan perminatan dan perburuhan pasar.
Dengan kemajuan teknologi informasi, kain tenun bermotif kebaruan, mudah di pasarkan melalui media sosial sebagai cara gampang menerpa pelanggan.
Selain meningkatkan kesadaran akan keindahan kain tenun ikat, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas.
Meski demikian, para pengrajin menghadapi tantangan seperti persaingan harga dan kadang sulit mencari pasaran.
Harapan dari para pengrajin, kedepannya pemerintah desa terus mencari solusi dengan menjadikan program kewirausaha dan pemasaran produk kaum ina-ina di desa.
Karena melalui tenunan, mereka berbicara kepada dunia tentang kekayaan budaya dan identitas lewo dan desa.