SUKU GURU MADA DI DESA ADOBALA GELAR TRADISI BUA ORING DI PONDOK ADAT

  • Feb 10, 2025
  • Fransiskus Kopong Doken
  • Budaya

Bu'oring adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat adat Lamaholot di Kabupaten Flores Timur NTT.

Tradisi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menemukan nilai kearifan lokal, yaitu sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan bentuk penghormatan kepada leluhur dan Lera Wulan Tana Ekan. Kepercayaan masyarakat Lamaholot yang diyakini sebagai Tuhan langit dan bum. Lera Wulan Tana Ekan merupakan wujud tertinggi yang diyakini oleh masyarakat Lamaholot.

Sebagai masyarakat Lamaholot, ritual Bu'Oring atau Makan Bersama di Pondok Adat ini, telah membudaya sebagai warisan leluhur dan biasanya dilakukan dua kali setahun, yaitu pada musim tanam dan musim petik.

Seperti yang digelar Suku Guru Mada salah satu suku yang mendiami Lewo Langobelen Narawayong di desa Adobala, Kecamatan Kelubagolit, Kabupaten Flores Timur NTT. 

Suku Guru Mada yang dijuluki sebagai Lewo Alape, yaitu sebutan untuk tuan tanah dalam bahasa Lamaholot.

Pada Minggu (09/02/2025) Suku Guru Mada menggelar ritual adat Bu'a Oring atau makan bersama di pondok adat suku yang sering disebut Oring Keliha, bersama dengan suku Baowolo dan suku Lamaewak. Kedua suku yang memiliki sejarah panjang dan kedekatan dengan suku Guru Mada tersebut.

Ritual adat Bu'a Oring oleh suku Guru Mada digelar sebagai ungkapan syukur di musim tanam. Oleh orang Lamaholot menyebutnya dengan Tubak Mula (tanam hasil petanian). Sedangkan ritual di musim petik disebut dengan Hudu Hubak (petik hasil pertanian).

Pada acara Bua Oring ini, keluarga besar suku Guru Mada yang datang ke Oring Keliha bersama dengan suku Baowolo dan suku Lamaewak membawa serta Ayam (manuk) yang lebih dulu dibawa oleh kaum laki-laki (Ama Lake).

Selain itu, juga disiapkan Tuak (Alkohol dari hasil irisan kelapa) yang nantinya digunakan untuk acara ritual Bau Lolon oleh pemangku adat suku Guru Mada bersama dengan kedua suku pendamping tersebut.

Setelah sesajian itu terkumpulkan, pemangku adat suku Guru Mada dan kedua suku tersebut duduk bersama didepan pondok adat pada tempat duduk dari batu (Nobo) untuk memulai ritual Ba'u Lolon yang difasilitasi oleh Ana Opu yang bertindak sebagai Mehine Alape. Ana Opu adalah istilah dalam bahasa ada. Anak laki-laki yang ibunya  berasal dari suku yang menggelar ritual Bu'a Oring tersebut.

Selanjutnya pemangku suku tersulung (Bebeleka) dan Ana Opu lakukan pemotong ayam (Howak Manuk) sebagai bentuk sesajian untuk leluhur. Selanjutnya, semua ayam yang sudah terkumpulkan itu dipotong dan dimasak secara tradisional yang disebut dengan 'Manuk Tapo Sewut'( Daging Ayam dicampur dengan ampas kelapa).

Setelah semuanya sudah terkumpul di pondok adat (Oring Keliha), upacara Bu'a Oring segera dimulai.

Kaum laki-laki mempersiapkan fasilitas pendukung, seperti daun pisang (Muko Lolon), tempat duduk (Nobo), Tempurung (Keo) dan lain sebagainya.

Sedangkan Kaum Perempuan menyiapkan segala keperluan, seperti nasi, piring, sendok dan lain sebagainya.